Program Terbaru: Iran Digempur AS-Israel, Pemprov DKI: Stok Pangan Jakarta Tetap Aman

Konflik AS dan Iran Menghangat, DKI Jakarta Pastikan Stok Pangan Tetap Memadai

Pemerintah DKI Jakarta menegaskan bahwa pasokan bahan pokok untuk warganya tetap memadai selama bulan suci Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Pernyataan ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, yang merespons ketegangan geopolitik global akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. “Dengan prognosis kebutuhan dan ketersediaan pangan, semua komoditas strategis di Jakarta terpenuhi, terutama di tengah memanasnya konflik antara AS, Israel, dan Iran,” jelas Elisabeth dalam siaran pers yang dikutip Senin (1/3/2026).

Kenaikan Permintaan Pangan di Jakarta

Pemprov DKI Jakarta telah melakukan proyeksi kebutuhan bahan pokok secara rinci untuk periode Ramadan dan Idulfitri. Dalam tahun ini, kebutuhan pangan di Jakarta mengalami kenaikan, khususnya pada telur ayam yang naik sekitar 7,5%, serta daging sapi/kerbau dan bawang putih yang masing-masing meningkat 3,5%. Namun, Elisabeth menegaskan bahwa stok beras mencapai lebih dari 100 ribu ton, melebihi kebutuhan sekitar 68 ribu ton. “Daging ayam dan sapi, gula pasir, serta minyak goreng juga memiliki cadangan lebih dari kebutuhan bulanan,” tambahnya dalam wawancara.

Ketegangan Timur Tengah Mengancam Pasar Energi Global

Konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga komoditas internasional, karena kawasan ini menjadi produsen utama energi. Pemerintah Iran menyatakan akan membatasi distribusi melalui Selat Hormuz setelah serangan AS-Iran yang mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei. Penutupan jalur tersebut bisa memperparah kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan data perdagangan pada akhir pekan Februari 2026, harga minyak global menunjukkan pergerakan dinamis tetapi stabil. Pada Senin (23/2/2026), harga Brent tercatat US$ 71,49 per barel, sementara WTI berada di US$ 66,31 per barel. Harga mengalami konsolidasi pada pertengahan pekan, mencapai US$ 70,75 untuk Brent dan US$ 65,21 untuk WTI pada Kamis (26/2/2026). Namun, kenaikan harga terjadi kembali pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), dengan Brent naik 2% ke US$ 72,48 per barel serta WTI mencapai US$ 67,02 per barel.

“Peningkatan harga akhir pekan ini menunjukkan langkah penyesuaian oleh pelaku pasar sebelum bursa ditutup,” kata Elisabeth dalam wawancara tambahan.

Proyeksi Harga Minyak Terkini

Berdasarkan data industri, sekitar 20% dari total konsumsi minyak global didistribusikan melalui Selat Hormuz. Potensi hambatan pada jalur ini menjadi risiko utama yang diperhitungkan oleh pasar. Barclays, dalam laporan terbaru, merevisi proyeksi harga Brent dari US$ 80 per barel menjadi US$ 100 per barel. Revisi ini dipengaruhi oleh risiko logistik di perairan Timur Tengah.

Langkah penyesuaian tersebut mencerminkan antisipasi terhadap ketidakstabilan keamanan di kawasan tersebut. Pemprov DKI Jakarta menekankan bahwa persediaan pangan tetap terjaga meski situasi geopolitik sedang memanas. (arj/haa) Add as a preferred source on Google [Gambas:Video CNBC] Next Article Bulog Mau Bangun 100 Gudang Baru, Ini Lokasinya-Pemda Ikut Bantu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *