Strategi Penting: IHSG Berpotensi Volatile Pekan Ini, Risiko Geopolitik dan Kebijakan Global Jadi Sentimen Utama
IHSG Berpotensi Fluktuatif Selama Pekan Ini, Faktor Global Menjadi Penentu Utama
Pasar saham Indonesia tampaknya akan mengalami pergerakan bergejolak dalam beberapa hari mendatang. Analis dari PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengungkapkan bahwa IHSG cenderung berada dalam fase stabilisasi dengan tingkat perubahan yang cukup signifikan. Menurutnya, indikator utama yang memengaruhi sentimen investor adalah kenaikan risiko geopolitik serta kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS).
Ketegangan Regional dan Kebijakan Ekonomi AS
Konflik antara Iran, Israel, dan AS semakin memanas, memicu kecemasan di pasar global. Area Selat Hormuz, yang menjadi jalur kritis untuk distribusi energi, menjadi fokus perhatian. Situasi ini berpotensi memperkuat nilai dolar AS sekaligus mendorong kenaikan harga komoditas energi, sehingga memengaruhi aliran dana ke pasar emerging, termasuk Indonesia.
“IHSG selama seminggu ini berpotensi bergerak fluktuatif, dengan pola konsolidasi yang diperkirakan berlangsung bersamaan dengan tingkat volatilitas tinggi. Support berada di 8.031, sedangkan resistance di 8.437,” kata Imam dalam pernyataan resmi di Jakarta, Senin (2/3).
Dampak pada Sektor Energi dan Pertambangan
Naiknya harga minyak serta batu bara bisa menjadi faktor positif bagi emiten sektor energi dan pertambangan, terutama jika harga komoditas tetap stabil. Indonesia, sebagai negara eksportir komoditas, berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan ASP (harga jual rata-rata) dan peningkatan margin usaha.
Akan tetapi, jika kenaikan harga energi terus berlanjut, bisa menciptakan tekanan baru terhadap inflasi global serta nilai tukar rupiah. Kenaikan signifikan harga minyak dinilai akan memperlebar defisit transaksi berjalan karena meningkatkan kebutuhan impor migas.
Perubahan Kebijakan Tarif di AS
Di sisi kebijakan ekonomi, AS mengalami pergeseran strategi. Mahkamah Agung membatalkan sebagian besar tarif impor era Trump, tetapi mantan presiden kemudian mengumumkan rencana peningkatan tarif global hingga 15%. Selain itu, Departemen Perdagangan menerapkan bea masuk anti-subsidi pada panel surya dari negara-negara, termasuk Indonesia, dengan tarif 86% hingga 143,3%.
Kebijakan ini dianggap akan memberikan tekanan pada ekspor energi terbarukan Indonesia, serta mengganggu neraca perdagangan sektor tersebut.
Peringatan dari S&P Global Ratings
Ketegangan fiskal juga menjadi sorotan, dengan S&P Global Ratings memperingatkan risiko peningkatan beban bunga utang terhadap pendapatan negara. Rasio ini diperkirakan tetap berada di atas 15%, yang menjadi indikator utama kesehatan fiskal. Jika tren ini berlanjut, peluang penurunan peringkat kredit bisa muncul, meski outlook untuk saat ini tetap stabil.
Kombinasi isu geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan AS, serta tekanan fiskal domestik, menurut Imam, menciptakan suasana hati-hati di pasar keuangan global dan pasar dalam negeri.
Data Ekonomi yang Akan Diawasi
Memasuki awal Maret 2026, IHSG juga akan terpengaruh oleh beberapa rilis data ekonomi penting, seperti PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026, Neraca Perdagangan Januari 2026, serta Inflasi Februari 2026. Data ini menjadi tolak ukur untuk menilai dinamika ekonomi dan kebijakan moneter.
